Lingkungan
Beranda / Berita / Lingkungan / KLASS Gelar SPILL THE EARTH, Dorong Pemuda Sulbar Peduli Krisis Iklim

KLASS Gelar SPILL THE EARTH, Dorong Pemuda Sulbar Peduli Krisis Iklim

KLASS Gelar SPILL THE EARTH Dorong Pemuda Sulbar Peduli Krisis Iklim di Mamuju
Peserta Environmental Action Lab SPILL THE EARTH foto bersama usai diskusi krisis iklim dan masyarakat pesisir di Mamuju, Sabtu 17 Oktober 2026. Foto: KLASS Sulbar

Mapattang.com | Mamuju – Krisis iklim dinilai menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan ekosistem laut dan penghidupan masyarakat pesisir di Sulawesi Barat. Merespons kondisi tersebut, Komunitas Leader of Action and Service Sulawesi Barat (KLASS) menginisiasi forum Environmental Action Lab bertajuk SPILL THE EARTH.

Kegiatan yang mengusung tema “Laut dan Masyarakat Pesisir: Membangun Kesadaran dan Gerakan untuk Mewujudkan Keadilan Ekologis” ini dilaksanakan di Gedung UPTD Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat, Mamuju, pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian konsolidasi daerah menuju Local Conference of Youth (LCOY) 2026.

Koordinator Umum KLASS, Lukman Sagala, mengatakan forum ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan tentang perubahan iklim, tetapi juga mendorong keterlibatan generasi muda sebagai aktor sosial dalam kebijakan lingkungan.

Sampah yang mencemari pantai dan perairan merupakan cerminan krisis ekologis yang mengancam kehidupan masyarakat pesisir. Keadilan ekologis tidak akan terwujud jika tanggung jawab hanya dibebankan pada perilaku individu, sementara tanggung jawab industri dan kebijakan luput dari sorotan,” ujar Lukman.

Menurut KLASS, perubahan pola musim, cuaca ekstrem, dan degradasi ekosistem seperti mangrove dan terumbu karang berdampak langsung pada keselamatan nelayan dan stabilitas ekonomi rumah tangga pesisir.

GMNI Majene Soroti Dugaan Tambang Galian C di Talumung, Desak Polres Majene Turun Tangan

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Polewali Mandar, Muh. Muksin R., yang hadir sebagai narasumber, menegaskan bahwa nelayan kecil menjadi kelompok paling rentan.

Krisis iklim bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan ancaman nyata terhadap keberlangsungan hidup masyarakat pesisir. Dalam situasi ini, nelayan tidak hanya menghadapi ancaman ekologis, tetapi juga ketimpangan akses terhadap sumber daya dan perlindungan kebijakan,” kata Muksin.

Ia menambahkan, pemuda harus mengambil peran sebagai penggerak perubahan dan memperkuat solidaritas bersama nelayan dalam menyuarakan kebijakan yang berkeadilan.

Pandangan senada disampaikan Sekretaris Jenderal Himpunan Mahasiswa Akuakultur Indonesia, Ramli. Ia menilai isu pesisir tidak bisa dipandang sebagai angka statistik semata.

Masyarakat pesisir dan ekosistem laut berada di garis depan dampak krisis iklim. Ini adalah panggilan mendesak untuk merumuskan tindakan kolektif yang nyata demi menjaga masa depan laut,” ucap Ramli.

HMI Cabang Polman Soroti Asap Selimuti Polman, Desak Pemkab Transparan Soal Kualitas Udara

Dalam diskusi, peserta membahas lima isu utama yakni pengelolaan sampah dan pola konsumsi, krisis iklim dan cuaca ekstrem, keberlanjutan laut dan masyarakat pesisir, perlindungan ruang hijau, serta penguatan kesadaran lingkungan masyarakat.

KLASS menegaskan agenda tindak lanjut dari konsolidasi ini meliputi penguatan edukasi lingkungan, pemetaan persoalan sosial-ekologis wilayah pesisir, pengembangan jejaring komunitas, dan peningkatan partisipasi publik dalam pengawasan tata kelola lingkungan.

Laporan: MPT/M – Berani Terang Dalam Gelap

Catatan Redaksi: Artikel ini disusun berdasarkan siaran pers yang diterima redaksi Mapattang.com dari KLASS Sulawesi Barat. Redaksi telah melakukan penyuntingan sesuai kaidah jurnalistik. Redaksi membuka ruang hak jawab bagi pihak terkait sesuai UU Pers Nomor 40 Tahun 1999.

PC PMII Mamuju Nilai Karhutla Kejahatan Kemanusiaan, Tegakkan Hablumminannas