Mapattang.com | Polewali Mandar – Waktu dua minggu sering dianggap terlalu singkat untuk perubahan. Namun bagi mahasiswa Program Studi (Prodi) S1 Kesehatan Masyarakat STIKES Bina Bangsa Majene (BBM), durasi 14 hari Praktik Belajar Lapangan (PBL) di Desa Tonyaman justru menjadi momentum untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong.
Melalui PBL, mahasiswa memicu lahirnya kolaborasi “triple helix” di Desa Tonyaman. Tiga kekuatan utama bersinergi: keilmuan dari kampus, komitmen kebijakan dari Pemerintah Desa, dan kekuatan moral-kultural dari para santri. Ketiga elemen ini melebur tanpa sekat, bahu-bahu menggerakkan warga demi satu tujuan, yaitu peningkatan derajat kesehatan lingkungan dan perilaku hidup bersih sehat.
Pemerintah Desa Tonyaman berperan sebagai fasilitator yang cekatan dan visioner. Menyadari keterbatasan waktu mahasiswa, jajaran pamong desa membuka akses data seluas-luasnya dan menggerakkan perangkat dusun. Dukungan ini membuat mahasiswa dapat bergerak cepat melakukan diagnosis komunitas dan mengeksekusi program intervensi tepat sasaran.
Peran aktif pemerintah desa dan partisipasi warga menjadi kunci. Dengan data yang terbuka dan dukungan penuh, kami bisa langsung bekerja di lapangan,” ujar Haikal, Mahasiswa PBL S1 Kesehatan Masyarakat STIKES BBM, Jumat (10/7/2026).
Nadi utama aksi dua minggu ini adalah keterlibatan para santri di garda depan. Kolaborasi mahasiswa dan santri menciptakan pendekatan promosi kesehatan yang membumi.
Sains kesehatan masyarakat dikawinkan dengan nilai humanis keagamaan. Saat kerja bakti membersihkan lingkungan, bahasa sosialisasi tidak lagi kaku, melainkan cair menjadi obrolan hangat yang memicu warga ikut memegang sapu dan cangkul.
Bagi mahasiswa, PBL di Tonyaman adalah laboratorium sosial yang mendewasakan. Teori epidemiologi, promosi kesehatan, dan manajemen kesehatan lingkungan yang dipelajari di kelas diuji langsung di lapangan.
Kami belajar bahwa mengedukasi masyarakat tidak cukup dengan brosur. Harus dibarengi dengan keteladanan, peluh, dan aksi nyata bersama warga di bawah terik matahari,” tegas Haikal.
Aksi Nyata ini menjadi bukti autentik bahwa perubahan besar bisa dimulai dari waktu yang singkat, asalkan digerakkan oleh ketulusan dan semangat kebersamaan.
Ketika mahasiswa membawa kompas keilmuan, santri membawa kedekatan kultural, dan pemerintah desa memegang komando kebijakan, yang diikat kuat oleh tali gotong royong, maka kemandirian kesehatan bukan lagi sekadar narasi utopis di atas kertas.
Kemandirian kesehatan bukan narasi utopis. Ia bisa dimulai dari waktu singkat, asal digerakkan dengan ketulusan dan kebersamaan,” terangnya.
Meskipun kalender akademik telah selesai, Mahasiswa Prodi S1 Kesehatan Masyarakat STIKES BBM berharap api gotong royong dan fondasi kesadaran kesehatan yang telah diletakkan bersama santri dan Pemerintah Desa Tonyaman terus dirawat warga dan tidak boleh padam.
Pengabdian yang sejati adalah pengabdian yang meninggalkan jejak kemandirian yang terus dirawat oleh warga. Warisi apinya bukan abunya. Viva mahasiswa, viva santri, dan hormat kami untuk Pemerintah Desa Tonyaman!” tutup Haikal. (MPT/S)


Komentar