Majene Opini
Beranda / Opini / Dikotomi Kendali: Stoikisme Meriwayatkan, Kita Membangun Kesadaran

Dikotomi Kendali: Stoikisme Meriwayatkan, Kita Membangun Kesadaran

Oleh: Abdul Wahab (Jurnalis Mapattang.com)
Majene, 30 September 2026

Jika orang salah memahamimu, tak perlu khawatir, memang suaramulah yang mereka dengar, tapi apa yang terlintas di dalam batin mereka adalah pikiran mereka sendiri,” ujar Jalaluddin Rumi.

Mapattang.com | Opini – Kutipan Rumi inilah yang membuat saya berhenti sejenak. Ia tidak sedang membela kita agar apatis. Ia sedang merangsang kesadaran paling fundamental dalam stoikisme: Dikotomi Kendali.

Stoikisme meriwayatkan dengan tegas pentingnya kesadaran akan adanya sesuatu yang ada pada kendali diri dan ada pula sebaliknya.

Lantunan suaramu ada pada kendalimu, sedangkan cara berpikir dan pengambilan simpulannya dalam bentuk respon terhadap lantunan suaramu di luar daripada kendalimu.

Begitu suara itu lepas dari mulut kita, ia masuk ke wilayah yang bukan milik kita lagi: batin orang lain. Apa yang terlintas di dalam batin mereka, simpulan atau respon apa yang mereka ambil – itu adalah pikiran mereka sendiri. Itu di luar kendali kita.

Maka dari itu, stoikisme mengingatkan kita agar tidak salah langkah. Karena kadang kala kita terlalu reaktif, bahkan represif berbasis pada hal yang sifatnya asumtif. Padahal sejatinya itu utopis belaka: mengendalikan sesuatu yang sejak awal memang di luar kendali.

Stoikisme menekankan: jangan habiskan energi untuk mengoreksi simpulan atau respon orang, habiskan energi untuk memperbaiki lantunan suaramu.

Retorik sebagai respon menjadi sebuah keniscayaan, tapi tidak akan optimal jika hanya bermodal self control tanpa instrumen berpikir dan analisis kebenaran yang tepat.

Baru setelah itu, retorik akan menjadi proporsional. Tidak lagi didorong oleh keinginan untuk selalu dimengerti, melainkan oleh kebutuhan untuk tetap jernih dalam berinteraksi dengan manusia dan responnya yang di luar kendali diri yang tak jarang liar.

Tidak lupa, ada kesadaran lain yang tidak kalah fundamentalnya, ia juga merupakan kunci utama. Ya kesadaran posisi, ruang dan waktu.

Kita tidak bisa melantunkan suara yang sama di ruang yang berbeda dan mengharapkan simpulan yang sama. Sadar posisi kita siapa, ruangnya di mana, waktunya kapan – itulah yang membuat lantunan suara kita tidak hanya benar, tapi juga tepat: proporsional.

Ketika kesadaran kendali, kesadaran retorik, dan kesadaran posisi-ruang-waktu ini bertaut dan berasimilasi dengan baik, maka niscaya aktualisasinya akan lebih proporsional sesuai kebutuhan.

Dan pada akhirnya.

Tidak perlu khawatir jika disalahpahami. Tugas kita hanya memastikan lantunan itu jujur. Selebihnya, biarlah batin mereka yang menyelesaikan sisanya. (MPT/M)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *