Oleh: Brian Lewerissa, S.Kep
Mahasiswa Profesi Ners STIKES Pasapua Ambon
Mapattang.com | Opini – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) Maluku hari ini bukan lagi sekadar berita dari jauh. Jika dulu kita hanya menonton dari layar kaca, kini tanda-tandanya mulai kita hirup sendiri.
Di luar Maluku, dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sudah lebih luas dan lebih dulu terjadi. Kita semua menyaksikan bagaimana jutaan hektar hutan dalam kepungan asap. Sekolah diliburkan. Bandara ditutup. Ribuan warga menderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kerugian ekonomi triliunan rupiah. Hutan yang menjadi paru-paru dunia, hilang menjadi abu dalam hitungan minggu.
Hari ini, tanda-tanda itu mulai terlihat di Maluku.
Kabut asap tipis yang dulu hanya kita lihat di berita tentang Sumatera dan Kalimantan, kini mulai kita hirup sendiri di Ambon dan beberapa kabupaten. Langit yang sedikit menguning di sore hari, bau hangus yang terbawa angin, dan laporan titik api yang mulai bermunculan adalah peringatan dini. Ini bukan lagi ancaman dari luar, ini sudah berada di depan mata kita.
Sebagai mahasiswa profesi Ners, saya belajar bahwa dalam ilmu kesehatan ada prinsip utama yang tidak bisa ditawar: “mencegah lebih baik daripada mengobati.”
Prinsip yang sama seharusnya berlaku untuk lingkungan hidup.
Dalam keperawatan, kami diajarkan tentang konsep pencegahan berjenjang. Pencegahan primer adalah menghentikan penyakit sebelum muncul. Pencegahan sekunder adalah deteksi dini. Dan pencegahan tersier adalah mencegah komplikasi menjadi lebih bburuk
Jika prinsip ini kita tarik ke konteks Karhutla Maluku, maka kita sedang berada di fase pencegahan primer dan sekunder. Kita masih punya waktu untuk mencegah sebelum semuanya menjadi komplikasi akut seperti yang dialami Kalimantan.
Kita tidak perlu menunggu Maluku menjadi seperti Kalimantan, dengan langit kuning selama berbulan-bulan, baru kita bertindak. Kita tidak perlu menunggu korban ISPA memenuhi Instalasi Gawat Darurat (IGD), baru kita membagikan masker. Itu adalah logika pengobatan yang terlambat, bukan logika pencegahan.
Bencana Asap adalah Bencana Kesehatan
Banyak yang mengira karhutla hanya bencana lingkungan. Padahal, dari kacamata kesehatan, karhutla adalah bencana kesehatan masyarakat yang paling nyata. Asap dari pembakaran hutan mengandung partikel PM 2.5, karbon monoksida, dan senyawa karsinogenik lainnya yang sangat kecil sehingga bisa menembus alveoli paru-paru.
Dampaknya tidak main-main. Pada balita, paparan asap dapat mengganggu tumbuh kembang paru. Pada ibu hamil, dapat memicu kelahiran prematur. Pada lansia dan penderita asma, asap bisa menjadi pemicu serangan yang fatal. Dan bagi kita semua, paparan jangka panjang meningkatkan risiko ISPA kronis, penurunan fungsi paru, dan gangguan kardiovaskular.
Di Kalimantan, data Dinas Kesehatan mencatat lonjakan kasus ISPA hingga 300 persen saat puncak karhutla. Rumah sakit kewalahan. Oksigen langka. Ini bukan skenario film, ini fakta yang terjadi berulang setiap tahun. Apakah kita akan menunggu data yang sama muncul di RSUD dr. M. Haulussy Ambon baru kita sadar?
Tiga Catatan Kritis untuk Pejabat di Maluku
Untuk itu, dengan segala hormat, kami sebagai calon tenaga kesehatan di Maluku menitipkan harapan dan desakan kepada Bapak/ Ibu pejabat di Pemerintah Provinsi Maluku, BPBD, DLHK, dan Dinas Kesehatan:
1. Pencegahan adalah Pengobatan Terbaik.
Perkuat patroli dan pengawasan hutan di Maluku sebelum titik api meluas. Jangan tunggu besar. Anggaran untuk patroli hutan jauh lebih murah daripada anggaran untuk membangun posko pengungsian asap.
Libatkan masyarakat adat, babinsa, dan mahasiswa. Karhutla di Maluku sebagian besar dipicu oleh faktor manusia, baik karena pembukaan lahan maupun kelalaian. Edukasi dan penegakan hukum harus berjalan beriringan sejak hari ini.
2. Siapkan Sistem Kesehatan Sejak Dini.
Belajar dari Kalimantan, siapkan sejak dini posko kesehatan, cadangan masker N95 (bukan masker kain biasa), tabung oksigen, dan edukasi untuk kelompok rentan: balita, ibu hamil, dan lansia.
Puskesmas di daerah rawan karhutla harus sudah memiliki SOP penanganan asap. Jangan sampai ketika asap sudah pekat, kita baru bingung mencari masker. Kesiapsiagaan kesehatan harus menjadi prioritas, bukan reaksi.
3. Transparansi Data adalah Vaksin untuk Kepanikan.
Sampaikan secara jujur kualitas udara (Indeks Standar Pencemar Udara/ ISPU) dan peta titik api kepada masyarakat Maluku, agar kami bisa melindungi diri. Di era digital ini, masyarakat berhak tahu kondisi udara yang mereka hirup.
Dengan data yang terbuka, masyarakat bisa mengambil keputusan: kapan harus di dalam rumah, kapan anak tidak perlu sekolah, kapan harus menggunakan masker. Menutupi data hanya akan menciptakan krisis kepercayaan yang lebih berbahaya dari asap itu sendiri.
Pelajaran Mahal Bernama Kalimantan
Kalimantan adalah pelajaran mahal bagi Indonesia. Kerusakan yang terjadi di sana butuh puluhan tahun untuk dipulihkan. Hutan yang hilang tidak bisa kembali dalam satu musim hujan. Paru-paru yang rusak karena ISPA kronis tidak bisa kembali 100 persen.
Maluku jangan menjadi pengulangan dari kegagalan tersebut. Jika hutan Kalimantan adalah paru-paru dunia yang sudah terluka dan berjuang untuk sembuh, maka hutan Maluku adalah paru-paru yang masih bisa kita jaga tetap sehat, bersih, dan kuat.
Kita di Maluku masih memiliki keunggulan. Hutan kita masih relatif terjaga. Budaya Sasi yang mengajarkan kearifan menjaga alam masih hidup. Tinggal kemauan politik dan kolaborasi yang harus diperkuat.
Mari kita jaga bersama, sebelum hutan benar-benar jadi abu, dan kita semua terlambat untuk berbuat. Jangan biarkan Maluku menjadi Kalimantan berikutnya. (MPT/A)


